Astitva Mumbai: Istituto Marangoni Mumbai Tampilkan Koleksi Mahasiswa 2026
Astitva Mumbai menjadi panggung bagi sembilan mahasiswa Desain Fashion tahun kedua Istituto Marangoni Mumbai untuk menampilkan karya-karya yang lahir dari pengalaman pribadi dan refleksi identitas. Acara yang digelar Sabtu malam, 18 Juli 2026, menghadirkan koleksi yang tak hanya menonjolkan teknik dan siluet, tetapi juga narasi mendalam tentang memori, keluarga, ketahanan, dan transformasi.

Nama ‘Astitva’, yang berasal dari bahasa Sansekerta berarti identitas atau keberadaan, menjadi benang merah yang mengikat seluruh presentasi. Di balik setiap tampilan terlihat upaya mahasiswa menerjemahkan perjalanan hidup, budaya, dan ingatan menjadi karya kontemporer yang berbicara tentang rasa memiliki, kesedihan, kebangkitan, dan harapan.
Astitva Mumbai: Tema, panggung, dan suasana
Panggung Astitva dirancang untuk mempertegas dialog antara warisan dan modernitas yang menjadi sumber inspirasi para perancang muda. Instalasi runway memadukan material industri mentah dengan permukaan reflektif dan pencahayaan skulptural, menciptakan suasana imersif di mana busana, arsitektur, dan emosi berinteraksi. Pengaturan ini memberi ruang bagi koleksi-koleksi untuk diceritakan bukan sekadar dilihat.
Tarun Pandey, COO Istituto Marangoni Mumbai, menegaskan filosofi di balik pameran ini: “With Astitva, our students have demonstrated that great design begins with authenticity. This year’s showcase is a celebration of identity, not as something fixed, but as something continually shaped by memory, culture, lived experience and transformation.” Pernyataan itu menekankan dorongan institusi agar mahasiswa mengeksplorasi diri sebagai titik awal proses kreatif.
Sembilan koleksi sebagai narasi pribadi
Setiap desainer menampilkan tiga look yang menjadi rangkaian cerita personal. Anshika Yadav lewat koleksi Ecdysis menafsirkan transformasi melalui perjalanan simbolik seekor burung, menggambarkan tahapan asal, harapan, konflik, perjuangan, hingga pembebasan. Anushka Puranik dalam Anchors of Immanence memvisualisasikan bagaimana keluarga tetap menjadi jangkar meski terpisah jarak, menggunakan siluet terstruktur dan lapisan untuk menggambarkan dukungan yang menahan dan meneguhkan.
Diya Gupta menghadirkan Unfinished Rooms, koleksi yang terinspirasi dari kamar masa kecilnya dan gagasan bahwa ruang tempat tumbuh memengaruhi proses menjadi. Drishti Bachwani dengan Alexithymia mengeksplorasi kesulitan mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi—sebuah karya yang mencoba memberi bentuk pada apa yang selama ini tersimpan tanpa kata.
Natalia Kumar dalam Inheritance Adorned mengambil inspirasi dari perhiasan India dan batu mulia, menyusun lima babak transformasi hiasan yang berpaut pada tradisi pengantin. Paarvi Khullar lewat Learning to Breathe Again memetakan perjalanan melawan kecemasan dan kehilangan emosional menuju proses penyembuhan dan penerimaan diri.
Pallavi Singh menghadirkan REVIVE sebagai penghormatan terhadap ketangguhan Kutch pasca-gempa Bhuj 2001, menonjolkan tenun Bhujodi, cetak blok Ajrakh, dan rajut tangan Kumaoni yang diolah menjadi pakaian musim dingin kontemporer. Tarini Kakar dengan La Révolution merayakan siklus perubahan—penciptaan, ruptur, pembaruan—sebagai aspek esensial dari keberlanjutan dan keindahan. Vanya Gupta menutup rangkaian dengan Fleeting Grief, sebuah penggambaran perjalanan berduka setelah kehilangan ibu pada usia enam belas, yang ditransformasikan menjadi karya tentang ketahanan dan penerimaan.
Penghargaan dan apresiasi lembaga
Pada akhir pagelaran, Pallavi Singh dianugerahi gelar The Designer of the Year 2026 untuk koleksi REVIVE yang menonjolkan kearifan lokal dan teknik kerajinan tangan. Untuk pertama kalinya institusi juga menganugerahkan The Sustainability Award 2026 kepada Anushka Puranik atas karyanya Anchors of Immanence, yang menekankan nilai kriya, penciptaan sadar, desain pusaka, dan kemewahan yang bertanggung jawab.
Kritian Steinberg, Director of Education Istituto Marangoni Mumbai, menambahkan bahwa pameran ini mencerminkan filosofi pendidikan institusi: mendorong mahasiswa untuk merangkul cerita dan identitas budaya mereka sebagai dasar praktik kreatif. Menurutnya, koleksi-koleksi tersebut menegaskan bahwa pengalaman pribadi dapat diolah menjadi bahasa desain yang relevan secara lokal sekaligus global.
Kolaborator, pengrajin, dan mitra kreatif
Produksi acara ini melibatkan sejumlah mitra kreatif dan pengrajin untuk memperkaya kualitas teknis dan estetika. Studio Amal Embroideries berkontribusi dengan bordiran tangan untuk beberapa tampilan terpilih, mempertegas komitmen terhadap teknik artisanal. Salon academy Daniel Bauer Academy mengurus tata rambut dan rias, sementara merek wewangian ŚASVA hadir sebagai mitra aroma dan The Source by Sula menyediakan kreasi anggur untuk menyertai suasana acara.
Tim kreatif di balik pertunjukan termasuk Kristian Steinberg sebagai Creative Direction, serta tim studio dan stylist yang memastikan setiap koleksi disajikan dengan narasi visual yang utuh. Penghargaan dan kolaborasi pada Astitva menegaskan posisi Istituto Marangoni Mumbai sebagai wadah pembelajaran yang memadukan tradisi ‘Made in Italy’ dan vokasi internasional dalam membentuk perancang muda yang siap bersaing di kancah global.
