DPR Dorong Storytelling Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif untuk Dongkrak Daya Saing
3 mins read

DPR Dorong Storytelling Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif untuk Dongkrak Daya Saing

BANGLI — Komisi VII DPR RI mendorong penguatan storytelling desa wisata dan pengembangan ekonomi kreatif sebagai strategi untuk meningkatkan daya saing desa wisata di wilayah Bangli. Dorongan ini dinilai penting untuk menonjolkan kekhasan budaya dan pengalaman yang ditawarkan setiap desa wisata kepada pengunjung.

storytelling desa wisata - ilustrasi berita DPR Dorong Storytelling Desa Wisata dan Ekonomi Kreatif untuk Dongkrak…

Dalam rangka meningkatkan keterlibatan komunitas lokal dan nilai tambah pariwisata, Komisi VII menekankan bahwa penyampaian cerita yang kuat serta pengembangan produk ekonomi kreatif dapat menjadi kunci untuk menarik pasar yang lebih luas dan memperpanjang lama kunjungan wisatawan.

Peran storytelling desa wisata dalam meningkatkan nilai pengalaman

Storytelling desa wisata dimaknai sebagai cara sistematis untuk menyampaikan nilai-nilai lokal, sejarah, serta tradisi melalui pengalaman wisata yang terpadu. Menurut Komisi VII, pendekatan berbasis narasi ini memungkinkan wisatawan memperoleh pemahaman lebih dalam tentang identitas desa, sehingga kunjungan tidak sekadar melihat, tetapi juga merasakan dan mengapresiasi budaya setempat.

Penerapan storytelling dapat berlangsung dalam berbagai bentuk, antara lain pengembangan rute tematik, penyajian pameran budaya, pertunjukan seni yang mengangkat kisah lokal, hingga integrasi cerita dalam paket wisata. Dengan demikian, desa wisata memiliki peluang untuk membedakan diri di tengah persaingan destinasi yang semakin ketat.

Ekonomi kreatif sebagai pendorong kesejahteraan lokal

Selain storytelling, Komisi VII menyoroti pentingnya ekonomi kreatif sebagai sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat desa. Pengembangan produk kreatif seperti kerajinan, kuliner khas, dan karya seni lokal tidak hanya menambah ragam produk wisata, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi pelaku usaha mikro dan komunitas seni.

Peningkatan kapabilitas pelaku ekonomi kreatif serta akses ke pasar, termasuk pemasaran digital, menjadi bagian dari upaya untuk memastikan produk lokal dapat dinikmati oleh wisatawan domestik maupun internasional. Dengan demikian, nilai ekonomi dari aktivitas pariwisata dapat terdistribusi lebih merata ke masyarakat setempat.

Kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk implementasi strategi

Komisi VII menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku pariwisata, komunitas kreatif, dan organisasi masyarakat untuk merealisasikan storytelling dan pengembangan ekonomi kreatif. Sinergi ini dinilai penting agar perencanaan, pelatihan, dan dukungan infrastruktur berjalan selaras serta sesuai dengan potensi lokal.

Pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan dianggap krusial agar program yang dijalankan mencerminkan aspirasi dan kearifan lokal. Dengan pendekatan partisipatif, keberlanjutan program dapat terjaga dan masyarakat lebih berkomitmen mempertahankan nilai-nilai budaya yang menjadi daya tarik wisata.

Peningkatan kapasitas dan promosi berbasis pengalaman

Fokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian dari rekomendasi yang disampaikan untuk mendukung storytelling desa wisata dan ekonomi kreatif. Pelatihan pemandu wisata, manajemen produk kreatif, hingga keterampilan pemasaran dinilai diperlukan agar nilai cerita dan produk dapat tersampaikan dengan baik kepada wisatawan.

Promosi yang menekankan pengalaman otentik juga dianggap efektif untuk menarik segmen pasar yang mencari wisata berbasis budaya dan interaksi langsung dengan komunitas lokal. Penataan paket wisata yang mengedepankan partisipasi pengunjung dalam aktivitas budaya dapat meningkatkan kepuasan serta potensi kunjungan ulang.

Harapan terhadap daya saing dan keberlanjutan desa wisata

Dengan memperkuat storytelling desa wisata dan mendorong ekonomi kreatif, Komisi VII berharap desa-desa wisata di Bangli dapat meningkatkan daya saingnya tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan. Strategi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan, tetapi juga mempertahankan keseimbangan antara pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi.

Penerapan konsep-konsep tersebut memerlukan komitmen berkelanjutan dari semua pihak agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat dan identitas budaya tetap menjadi pusat pengembangan pariwisata di tingkat desa.