Festival Tutur Pertiwi Dorong Konten Kreator Asing Berbahasa Indonesia
4 mins read

Festival Tutur Pertiwi Dorong Konten Kreator Asing Berbahasa Indonesia

Festival Tutur Pertiwi hadir untuk mendorong warga negara asing menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana berkarya dan berkomunikasi. Pada penyelenggaraan perdana Agustus 2026, festival ini melibatkan peserta dari 10 negara yang diberi tantangan membuat konten video berbahasa Indonesia untuk memperkenalkan Indonesia kepada audiens internasional.

tutur pertiwi - ilustrasi berita Festival Tutur Pertiwi Dorong Konten Kreator Asing Berbahasa Indonesia

Berlabel “Menuturkan Indonesia pada Dunia”, festival ini bukan sekadar lomba bahasa. Penyelenggara menekankan penggunaan bahasa Indonesia yang dipadukan dengan terjemahan ke bahasa Inggris atau bahasa asal peserta agar karya tetap dapat dinikmati oleh pengikut yang belum menguasai bahasa Indonesia.

Festival Tutur Pertiwi: Peserta internasional dan format kompetisi

Festival diikuti peserta dari Mesir, Yaman, Malaysia, Sudan, Pakistan, Korea Selatan, Madagaskar, Panama, Nigeria, dan Mali. Sepanjang Agustus 2026, para peserta diminta membuat video berbahasa Indonesia berdasarkan empat topik yang telah ditetapkan: alasan mencintai Indonesia dan bahasa Indonesia; ulasan tentang nasi Padang; cerita tentang destinasi wisata seperti Bukittinggi dan Puncak Lawang; serta pandangan mengenai kekayaan bahasa daerah di Indonesia.

Salah satu ketentuan khusus adalah setiap video wajib menggunakan bahasa Indonesia dan menyertakan terjemahan dalam bahasa Inggris atau bahasa negara asal peserta. Aturan ini dirancang agar karya tidak hanya menjadi sarana latihan berbahasa, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan budaya dan ragam Indonesia kepada audiens internasional.

Kisah pemenang dan karya yang menonjol

Dalam kompetisi tersebut, Andry Njakatiana Anthonio dari Madagaskar meraih Juara 1 dengan karya yang mengangkat kisah kecintaannya terhadap Indonesia dan bahasa Indonesia. Andry bercerita kecintaannya berawal dari kebiasaan orang tuanya memutar lagu Indonesia, termasuk lagu Betharia Sonata, yang membuatnya penasaran dan akhirnya mempelajari bahasa Indonesia sebagai jalan mengenal budaya.

Juara 2 diraih oleh Mitzel Libania Rodríguez Lino dari Panama. Dalam karyanya, Mitzel menceritakan proses perkenalan dengan Indonesia yang berawal dari keingintahuan hingga berbuah kesempatan mendapatkan beasiswa ke Indonesia. Cerita ini menegaskan bagaimana bahasa Indonesia membuka peluang untuk memahami kehidupan, masyarakat, dan keberagaman secara langsung.

Sementara itu, Han Seungik dari Korea Selatan dinobatkan sebagai Juara Favorit lewat karyanya yang menyorot kekayaan bahasa daerah Indonesia dan posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Han mengajak audiens untuk menyadari pentingnya menjaga dan melestarikan ragam bahasa daerah agar warisan linguistik tidak hilang.

Pembekalan, apresiasi, dan penghargaan non-tunai

Berbeda dengan kompetisi pada umumnya, Festival Tutur Pertiwi tidak menyediakan hadiah berupa uang tunai. Seluruh peserta memperoleh pembekalan yang berfokus pada pengembangan kemampuan, antara lain sertifikat, buku pembelajaran bahasa Indonesia dalam format digital, serta pelatihan Master of Ceremony (MC) dan konten kreator pemula yang diberikan langsung oleh Devi Virhana, pendiri BIPA Pertiwi sekaligus Festival Director.

Pembekalan mencakup kemampuan dasar menjadi pembawa acara hingga proses produksi konten, mulai menemukan ide, menyusun naskah, berbicara di depan kamera, hingga penyuntingan video. Selain itu, peserta juga menerima informasi dan mentoring terkait peluang beasiswa ke Indonesia.

Para pemenang mendapatkan apresiasi tambahan berupa voucher menginap, kesempatan publikasi di media daring Indonesia, serta dukungan produksi dan penyuntingan konten untuk membantu karya mereka menjangkau audiens lebih luas.

Dukungan penyelenggara, juri, dan harapan ke depan

Festival ini digagas oleh Devi Virhana yang ingin mentransfer ilmu komunikasi kepada warga negara asing agar mereka tidak hanya mahir berbahasa Indonesia, tetapi juga berani berkarya sebagai konten kreator, presenter, atau reporter. “Bahasa akan terlihat ketika digunakan dan dipublikasikan. Apalagi sekarang kita berada di era digital. Saya ingin warga negara asing tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi berani menggunakan bahasa itu untuk membuat karya dan memperkenalkan Indonesia kepada dunia,” ujar Devi.

Penilaian dilakukan oleh panel yang terdiri dari Mariam Ashraf, konten kreator asal Mesir; Rana Setiawan, editor dan jurnalis senior; serta Teja Kurniawan, Co-Founder BIPA Pertiwi dan konten kreator. Penyelenggaraan festival juga mendapat dukungan dari beberapa pihak termasuk hotel dan mitra lokal yang membantu kelancaran acara.

Penyelenggara berharap festival perdana yang berhasil menarik peserta dari 10 negara ini dapat terus berkembang. Tujuan jangka panjangnya adalah semakin banyak warga negara asing produktif menggunakan bahasa Indonesia untuk menuturkan Indonesia kepada dunia, sekaligus menjaga dan memperkaya citra bahasa Indonesia di ranah internasional.