Dari Thomas Tuchel hingga Andy Burnham, pria mengalami momen polo shirt
Polo shirt tampak kembali menjadi sorotan gaya pria di berbagai lingkungan: dari acara pernikahan selebritas hingga pertandingan sepak bola dan momentum politik. Pilihan atasan yang sederhana ini muncul berulang kali dalam penampilan tokoh-tokoh publik, menegaskan posisi polo sebagai item yang mudah dikenakan namun tetap mencuri perhatian.

Contoh paling mencolok datang dari Callum Turner, yang memilih mengenakan polo shirt selama rangkaian tiga hari pernikahannya dengan Dua Lipa di Palermo. Pilihan Turner, sebuah polo terrycloth dari merek Prancis Octobre Editions seharga £75, menunjukkan bahwa potongan klasik ini bisa hadir dalam bahan dan konteks yang berbeda dari sekadar pakaian kasual sehari-hari.
Mengapa polo shirt kembali populer
Polo shirt memiliki daya tarik lintas golongan: preppy namun santai, cukup rapi untuk acara informal tetapi tetap mudah dipadu-padankan dengan busana kasual. Kasus Turner memperlihatkan bagaimana satu item sederhana dapat menjadi andalan dalam rangkaian acara yang lebih besar, sementara contoh lain dari lapangan sepak bola dan dunia politik menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi di berbagai situasi.
Polo shirt di lapangan dan layar analisis
Di dunia olahraga, polo juga sering muncul pada momen-momen penting. Pada pertandingan pertama timnas Inggris di Piala Dunia melawan Kroasia, manajer Thomas Tuchel terlihat mengenakan polo dari bahan merino wool yang dijual oleh Marks & Spencer. Selain itu, sejumlah komentator dan pundit yang hadir di layar, termasuk Gary Neville dan Patrick Vieira, juga tampak mengenakan polo.
Penampilan pundit setelah pertandingan Belanda melawan Jepang menegaskan tren ini: Roy Keane, Ange Postecoglou, dan Gary Neville masing-masing terlihat memakai polo dalam warna mint green, cream, dan beige saat memberikan analisis pasca-pertandingan. Pilihan warna-warna netral dan pastel memperlihatkan bagaimana polo dapat dipakai untuk menciptakan kesan rapi namun tidak berlebihan di depan kamera.
Politik dan gaya kasual: contoh Andy Burnham
Polo shirt juga muncul dalam konteks politik. Baru-baru ini, setelah kemenangannya pada pemilihan sela di Makerfield, Andy Burnham tampak muncul dengan paduan sederhana: polo biru, celana jeans, dan sandal Birkenstock. Penampilan ini menegaskan sisi kasual namun tetap komunikatif dari polo, yang mampu menyampaikan kedekatan sekaligus ketenangan di depan publik.
Item serba bisa dari selebritas hingga figur publik
Dari pernikahan mewah di Palermo hingga ruang studio televisi dan momen politik, polo shirt kembali menegaskan posisinya sebagai item serba guna dalam lemari pria. Walau telah lama menjadi favorit, momen-momen ini menunjukkan bagaimana polo terus berevolusi: bahan, warna, dan cara pemadupakaian menentukan konteks dan pesan gaya yang ingin disampaikan.
Pilihan Turner’s terrycloth dari Octobre Editions, Tuchel dengan merino wool dari Marks & Spencer, serta penampilan pundit dan politikus yang memilih polo dalam nuansa tenang, semuanya menggambarkan satu kesamaan—polo shirt mampu menyatukan kenyamanan dan citra yang rapi. Item sederhana ini kembali mendapat perhatian sebagai solusi busana yang mudah dikenakan namun tetap relevan di berbagai lapisan masyarakat.
Dengan munculnya polo dalam beragam momen publik baru-baru ini, tidak mengherankan jika tren ini semakin diperhatikan. Baik dalam perayaan pribadi, tugas profesional di lapangan olahraga, maupun penampilan politik, polo shirt menunjukkan bahwa gaya yang sederhana seringkali paling mudah beresonansi di mata publik.
