Sami Miro: Vintage, keberlanjutan, dan bahaya ‘forever chemicals’ pada pakaian
Sami Miro menegaskan kembali kecintaannya pada pakaian vintage sebagai jalan untuk menemukan gaya pribadi dan percaya diri. Menurutnya, pembatasan dan pemilihan yang disengaja justru menjadi mesin kreativitas di dunia mode yang kerap memuja kelimpahan.

Dalam sebuah rekaman percakapan panjang, Miro menguraikan bagaimana pengalaman menerima banyak kiriman pakaian dari merek membuatnya kehilangan identitas visual. Ia memutuskan mundur sejenak, menjadi lebih sengaja, dan kembali ke pendekatan scrappy yang menandai awal kariernya—sebuah perjalanan yang berakar dari penemuan sebuah polo Lacoste ungu di rak vintage ketika masih duduk di bangku menengah.
Sami Miro tentang vintage dan gaya yang terbatas
Pengalaman menemukan barang vintage itu memberi Miro rasa identitas yang kuat. Ia menceritakan bagaimana mengetahui bahwa ia adalah satu-satunya orang yang memiliki potongan pakaian tertentu membangkitkan rasa percaya diri. Cinta Miro pada pakaian bekas bukan sekadar soal estetika; baginya setiap benda membawa cerita yang membuat pemakainya merasa unik.
Kisah itu juga memengaruhi kariernya: selain menjadi pendiri label vintage yang mengusung namanya dan creative director, Miro pernah masuk sebagai finalis dalam sebuah inisiatif mode bergengsi. Ia juga berkarya untuk penampilan penari artis besar, penyanyi populer, serta tim senam Olimpiade AS 2024, menunjukkan bagaimana pendekatan vintage dan custom dapat bertemu panggung besar.
Menyoal dampak industri dan perbedaan greenwashing vs sirkularitas
Dalam pembicaraan itu, Miro tidak segan mengkritik dampak lingkungan industri fashion. Ia menempatkan industri ini di antara yang paling merusak dan menegaskan perlunya membedakan klaim-klaim “sustainable” yang samar dari praktik sirkular sejati yang memastikan pakaian tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.
Aturan praktis yang ia anjurkan bagi konsumen adalah mempelajari bahan pakaian. Mengetahui komposisi tekstil membantu pembeli membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab, serta membedakan produk yang benar-benar berkelanjutan dari sekadar pemasaran hijau.
Bahan, PFAS, dan alternatif yang lebih baik
Miro memperingatkan bahwa beberapa kain sintetis dan perlakuan tekstil dapat mengekspos pemakai pada PFAS, yang sering disebut “forever chemicals”. Ia menyebut penelitian awal yang menunjukkan zat-zat ini mungkin diserap melalui kulit dan masuk ke aliran darah, sehingga konsumen perlu lebih waspada terhadap klaim ramah lingkungan yang menutupi penggunaan plastik dan bahan berbahaya.
Ia mencontohkan bahwa beberapa kulit vegan dan bulu palsu ternyata sarat dengan plastik meski dikemas dalam narasi eco-friendly. Sebaliknya, bahan seperti katun organik, Tencel, bambu, serta material regeneratif seperti kulit dari jamur disebutnya sebagai jalur yang lebih menjanjikan untuk masa depan mode yang bertanggung jawab.
Miro juga memberi saran praktis terkait fast fashion: barang murah bisa dibeli lebih sadar—tetapi hanya jika pembeli benar-benar berniat menyimpan dan menggunakan potongan itu selama puluhan tahun. Ia menekankan bahwa niat jangka panjang adalah kunci agar pembelian tidak menjadi limbah tambahan.
Pengaruh pribadi, teknologi, dan rutinitas kecantikan
Selain membahas mode, Miro menyinggung aspek hidup pribadinya yang membentuk pandangannya. Ia tumbuh sebagai perempuan birasial di San Francisco, dibesarkan oleh ayah berkebangsaan Perancis-Rusia setelah ibunya absen. Dorongan ayahnya membuatnya menyadari kecantikan komunitas kulit hitam, namun kepercayaan dirinya tumbuh saat ia menemukan dunia vintage.
Miro juga mengulas hubungan antara kreativitas dan teknologi. Ia membuka diri terhadap penggunaan kecerdasan buatan sebagai alat kreatif, tetapi tetap mempertimbangkan jejak lingkungan yang mungkin ditimbulkan teknologi tersebut, menunjukkan pendekatan yang berhati-hati terhadap inovasi.
Pilihan kecantikan sehari-harinya relatif sederhana. Setelah mengalami masalah jerawat, dermatologinya meresepkan tretinoin yang menurutnya memperbaiki kondisi kulit dalam waktu kurang dari sebulan. Selain itu, ia menyebut beberapa produk rias dan tabir surya yang menjadi bagian rutinitasnya, serta mengaku sempat terpikir melakukan filler bibir namun segera mengurungkan niat tersebut.
