Pertemuan Penyair Nusantara XIV Resmi Dibuka di Aceh
4 mins read

Pertemuan Penyair Nusantara XIV Resmi Dibuka di Aceh

Pertemuan Penyair Nusantara XIV resmi dibuka di Aceh dengan upacara yang memadukan unsur keagamaan, kebudayaan, dan pertunjukan seni. Pembukaan menegaskan peran sastra sebagai medium diplomasi budaya yang menghubungkan berbagai tradisi dan bahasa di kawasan Nusantara.

pertemuan penyair nusantara - ilustrasi berita Pertemuan Penyair Nusantara XIV Resmi Dibuka di Aceh

Acara pembukaan dipandu oleh Ade Putra dari Riau dan Wanda Ramadhana. Rangkaian diawali pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Nisfun Nahar, dilanjutkan doa yang dipimpin Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, serta nyanyian Lagu Indonesia Raya dan Hymne Aceh yang dibawakan Paduan Isyarat bersama siswa-siswi SLB Bukesra Banda Aceh.

Pertemuan Penyair Nusantara: Pembukaan dan rangkaian acara

Suasana semakin kental dengan pertunjukan “Harmoni Syair Nusantara dari Aceh untuk Dunia” yang diiringi Marching Band Gita Handayani. Direktur Pelaksana PPN XIV Aceh-Indonesia, Noviati Maulida Rahmah, menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. Dalam laporannya, Noviati menegaskan pentingnya diplomasi budaya melalui sastra di tengah dinamika dunia saat ini, serta tujuan pertemuan untuk memperkuat jejaring sastra Nusantara.

Malam pembukaan menampilkan segmen penghormatan khusus berjudul “Tribute to Nik Rakib Nik Hasan”, mengenang kontribusi tokoh sastra tersebut dalam perkembangan jaringan sastra Nusantara. Tayangan sapaan penyair bersama Taufik Ismail melengkapi suasana penghormatan, sebelum parade pembacaan puisi yang menampilkan sejumlah penyair terkemuka.

Penghormatan, pembacaan puisi, dan penampilan seni

Parade pembacaan puisi menampilkan Imam Ma’arif, Bara Pattyradja, Tuyed Legam, Djamal Syarief, Nissa Rengganis, Ranie Kashmir, dan LK Ara. Pengantar musikal dari Riski Tangke mengiringi sebagian penampilan, memperkaya pengalaman audiens antara kata dan bunyi. Pengantar kuratorial acara disampaikan oleh Salman Yoga S, Rini Intama, Acep Zamzam Noor, Mohamad Saleeh Rahamad dari Malaysia, dan Zefri Ariff dari Brunei Darussalam.

Para kurator menyoroti pentingnya sastra sebagai jembatan dialog lintas bangsa dan medium untuk memperkuat persaudaraan budaya di kawasan. Penekanan pada pertukaran gagasan dan pengalaman kultural menjadi salah satu benang merah dalam diskusi kuratorial dan pembacaan karya-karya pada malam pembukaan.

Diplomasi budaya dan dukungan pemerintah

Dalam rangkaian sambutan, Staf Khusus Menteri Kebudayaan, Nissa Rengganis, memberikan pernyataan yang disusul oleh Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminuddin Aziz, M.A., Ph.D. Keduanya menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung penguatan literasi, sastra, dan diplomasi kebudayaan Indonesia di tingkat regional maupun global.

Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Aceh sebagai tuan rumah PPN XIV. Ia menekankan sejarah panjang Aceh sebagai pusat peradaban, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang terbuka terhadap pergaulan dunia. Puncak acara ditandai dengan penyampaian Ranub Sigapu Wali Nanggroe oleh Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al Haythar.

Pembukaan resmi dan penghargaan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., secara resmi membuka Pertemuan Penyair Nusantara XIV Aceh-Indonesia. Momen pembukaan ditandai dengan penandatanganan kesepakatan diplomasi budaya, penyerahan Anugerah Cakrawala Penyair Nusantara, serta penghargaan kepada sekolah-sekolah yang aktif mengembangkan literasi.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta yang hadir dari berbagai negara. Penyerahan penghargaan dan penandatanganan kesepakatan menjadi simbol komitmen kolektif untuk terus mengembangkan jaringan sastra dan kegiatan kebudayaan lintas batas.

Tanoh Gayo, kopi, dan pengalaman budaya para sastrawan

Selain agenda formal, PPN XIV juga menghadirkan narasi tentang kebudayaan lokal Tanoh Gayo, termasuk peran Kopi Gayo sebagai bagian identitas masyarakat dataran tinggi tersebut. Gara, penulis novel bergenre sejarah, menyatakan dalam wawancara singkat saat dalam perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta, Senin pagi, 22/6, bahwa “Membicarakan Aceh Tengah hampir mustahil tanpa menyebut Kopi Gayo. Kopi yang telah dikenal hingga mancanegara ini menjadi salah satu identitas penting masyarakat dataran tinggi Gayo. Aroma dan cita rasanya yang khas telah menempatkan Kopi Gayo sebagai salah satu kopi terbaik dunia.”

Gara menambahkan bahwa pertemuan sastra di Tanoh Gayo kemungkinan besar akan dipenuhi diskusi tentang kopi, karena secangkir kopi sering menjadi sahabat lahirnya puisi, esai, dan karya-karya lain. “Para penyair akan menyaksikan bagaimana tradisi, keramahan masyarakat, dan keharuman Kopi Gayo berpadu menjadi sebuah pengalaman budaya yang utuh. Sebuah perjumpaan yang membuktikan bahwa sastra tidak lahir di ruang hampa, melainkan tumbuh dari kehidupan, dari tanah yang subur, dan dari secangkir kopi yang menghangatkan percakapan,” tambah Gara.

PPN XIV Tahun 2026 mempertemukan penyair, sastrawan, budayawan, dan pegiat literasi dari 14 negara. Berlangsung pada 22-28 Juni 2028, rangkaian kegiatan dimulai dengan kedatangan delegasi melalui Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, pada 22 Juni 2026. Keberadaan peserta internasional menjadi penegas bahwa sastra tetap berperan sebagai bahasa universal yang mampu menyatukan bangsa-bangsa melalui dialog, kreativitas, dan persaudaraan budaya.