Muhammadiyah: Program MBG Lebih Banyak Mudarat
Muhammadiyah menyatakan Program MBG lebih banyak mudarat, pernyataan yang memicu perhatian dan perdebatan di ruang publik. Organisasi masyarakat Islam besar itu menilai sejauh ini program Makan Bergizi Gratis menimbulkan dampak yang patut dikritisi, sehingga tidak cukup dilihat sebagai solusi tunggal bagi masalah gizi dan kesejahteraan anak.

Pernyataan tersebut mengejutkan sejumlah pihak mengingat MBG diposisikan sebagai program kebanggaan Presiden Prabowo Subianto. Program yang dikenal luas itu selama ini dipromosikan dengan gambaran yang sangat optimistis, bahkan oleh pendukungnya digambarkan seakan-akan akan membawa perubahan besar bagi masa depan anak-anak bangsa.
Reaksi Muhammadiyah terhadap Program MBG
Dalam pernyataannya, Muhammadiyah menyebut adanya potensi mudarat yang lebih dominan dalam pelaksanaan Program MBG. Organisasi itu mengingatkan agar penilaian terhadap program tidak hanya berdasarkan slogan dan janji besar, melainkan juga pada evaluasi dampak riil, risiko, dan konsekuensi jangka panjang yang mungkin timbul.
Penilaian tersebut mendapat sambutan beragam dari masyarakat. Ada yang menyatakan kaget atas keberanian Muhammadiyah mengkritik program yang dipromosikan secara luas, sementara sebagian lain menyatakan dukungan terhadap perlunya pengawasan dan kajian matang terhadap intervensi publik berskala besar.
Publik dan Citra Program MBG
Di mata publik, Program MBG selama ini tampil sebagai salah satu program andalan yang dipromosikan secara masif. Sebutan yang melambungkan program itu hingga ke ranah populer menggunakan metafora seperti ‘ramuan sakti’, ‘serum Avengers’, atau ‘bensin Pertamax’ menggambarkan harapan tinggi yang ditumpukan padanya. Gambaran tersebut menunjukkan bagaimana narasi promosi dapat membentuk ekspektasi besar terhadap sebuah kebijakan publik.
Namun, Muhammadiyah mengingatkan bahwa citra yang dibangun lewat promosi belum tentu mencerminkan efektivitas atau keamanan pelaksanaannya. Kritik ini menekankan perlunya penilaian berbasis bukti dan kajian ilmiah, supaya dampak negatif potensial dapat diminimalkan dan manfaat yang ditargetkan benar-benar tercapai.
Pertanyaan atas Promosi dan Dampak
Kritik terhadap Program MBG turut membuka pertanyaan terkait strategi komunikasi dan implementasi program. Apakah promosi yang berlebihan dapat menutup sorotan terhadap aspek teknis, logistik, dan keberlanjutan program? Muhammadiyah menyoroti bahwa fokus pada citra tanpa evaluasi komprehensif berisiko menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis dan konsekuensi yang tidak diinginkan.
Penggunaan bahasa hiperbolis dalam memasarkan program sosial sering kali membuat penilaian publik menjadi hitam-putih: program dipandang sebagai solusi mutlak atau sebagai ancaman. Muhammadiyah mengimbau agar diskursus publik tetap berpijak pada kajian yang objektif serta mempertimbangkan aspek keselamatan, kualitas gizi, dan mekanisme distribusi yang adil.
Pernyataan organisasi itu juga menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang hubungan antara ormas dan kebijakan negara. Ada perhatian dari publik mengenai sejauh mana kritik dari organisasi masyarakat dapat memengaruhi kebijakan pemerintah, dan bagaimana respons pemerintah terhadap masukan tersebut.
Meski demikian, pernyataan Muhammadiyah yang menilai Program MBG ‘lebih banyak mudarat’ memicu diskusi yang penting: soal pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan evaluasi independen dalam pelaksanaan program-program publik. Perdebatan ini menandakan bahwa implementasi kebijakan sosial perlu terus dipantau dan dinilai dari berbagai sudut pandang agar tujuan akhir—peningkatan gizi dan kesejahteraan anak—dapat tercapai tanpa menimbulkan kerugian baru.
Dalam situasi seperti ini, dialog antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci untuk menemukan jalan tengah yang pragmatis. Kritik yang konstruktif dari organisasi seperti Muhammadiyah dapat menjadi pendorong bagi perbaikan pelaksanaan program selama dilayangkan dengan data dan saran yang jelas.
