PPN XIV Aceh Jadi Saksi Perjalanan Sastra Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Rayakan 85 Tahun
3 mins read

PPN XIV Aceh Jadi Saksi Perjalanan Sastra Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Rayakan 85 Tahun

PPN XIV Aceh menjadi arena penting bagi perjalanan panjang sastra Indonesia ketika Sutardji Calzoum Bachri tampil membacakan puisi di hadapan peserta pertemuan. Kegiatan yang berlangsung di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh itu menyatukan penyair dari berbagai daerah serta sejumlah negara, menjadi wadah dialog dan perayaan karya sastra.

ppn xiv aceh - ilustrasi berita PPN XIV Aceh Jadi Saksi Perjalanan Sastra Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair…

Dalam kesempatan itu, suasana menjadi sangat personal dan penuh penghormatan karena pembacaan Sutardji bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-85. Sebelum pembacaan dimulai, para peserta bersama musisi memberikan kejutan berupa lagu “Selamat Ulang Tahun” yang menimbulkan momen haru di antara hadirin.

PPN XIV Aceh: Panggung Pertemuan Penyair

Pertemuan Penyair Nusantara XIV yang digelar pada 22–28 Juni 2026 menghadirkan berbagai aktivitas seni dan diskusi yang menempatkan puisi sebagai medium utama. Di ISBI Aceh, forum ini dirancang sebagai ruang pertukaran gagasan di antara penyair dari beragam provinsi dan beberapa delegasi internasional, sehingga memperkaya pengalaman lintas budaya dalam praktik perpuisian.

Sutardji Membacakan Puisi dan Perayaan 85 Tahun

Kejutan dan Suasana Haru di ISBI Aceh

Saat acara akan dimulai, para peserta dan musisi menyusun sebuah kejutan sederhana namun bermakna: menyanyikan lagu ulang tahun untuk Sutardji. Momen itu menghasilkan reaksi emosional dari hadirin dan penyair sendiri, memperlihatkan ikatan personal dan penghargaan komunitas sastra terhadap sosok yang telah lama berkarya. Kejutan ini menjadi catatan penting dalam rangkaian kegiatan PPN XIV karena menegaskan hubungan antara tokoh sastra dan komunitasnya.

Kredo Puisi dan Warisan Sastra

Sutardji dikenal luas karena konsep “Kredo Puisi” yang memperkenalkan pandangan baru tentang hubungan manusia dengan kata, bahasa, dan makna. Konsep itu turut memberi warna dalam praktik menulis dan membaca puisi di Indonesia, sekaligus membentuk diskursus tentang bagaimana bahasa dapat dipergunakan sebagai alat penghayatan mendalam. Di panggung PPN XIV Aceh, gagasan-gagasan semacam itu kembali mendapat perhatian, terutama ketika generasi muda bertemu dengan figur-figur senior dalam dunia puisi.

Perjumpaan antara berbagai generasi penyair ini terlihat jelas selama perhelatan. Para peserta muda turut menyimak dan berinteraksi dengan penyair senior, sehingga forum tidak hanya menjadi panggung pamer karya tetapi juga tempat transfer pengetahuan dan pengalaman estetik. Hal ini menegaskan bahwa sastra tetap hidup sebagai ruang dialog antargenerasi.

Seluruh rangkaian acara di ISBI Aceh menegaskan bahwa puisi terus berperan sebagai medium ekspresi dan suara kemanusiaan yang melampaui batas waktu. Kehadiran Sutardji pada PPN XIV Aceh memberi momentum untuk merefleksikan perjalanan sastra Indonesia sekaligus merayakan kontribusi tokoh yang selama ini menjaga denyut perpuisian nasional.

PPN XIV Aceh, melalui pertemuan, pembacaan, dan diskusi, memperlihatkan bahwa budaya literasi dan kreativitas tetap menjadi fondasi penting dalam memperkuat hubungan antardaerah dan antarbangsa. Forum ini menjadi saksi betapa puisi, yang dibawakan dengan penghayatan dan kesungguhan, mampu mengumpulkan komunitas besar untuk merayakan keberlanjutan tradisi sastra di tanah air.